pianoplayerKamu bisa duduk membiarkanku mengoceh berjam jam tentang karakter orang. Kita bisa berdebat mengenai mana karakter yang menarik dan mana yang bukan (dan saat itulah si bebek akan bosan dan tertidur di sofa). Lalu bermain piano ketika aku mulai sibuk dengan laptop. Mengerjakan apapun itu yang belakangan lagi ceritakan dengan berapi api. Berbeda dari minggu yang lalu.  Kepulan asap rokok, sisa sisa botol bir, menjadi aksesori diantara tawa tawa kita. Itu selalu menjadi potongan fragmen dimana pada akhirnya selalu berakhir dengan diriku menceritakan hal hal memalukan. Yang membuatmu memiliki segudang amunisi baru untuk membullyku dihadapan teman teman.

Bukan. Aku bukan orang sakit. Bukan pula orang jahat. I’m just trying to fit in, as always without NOT being myself. Dan itu selalu dimulai dengan observasi lingkungan. Pola seperti apa yang muncul, bagaimana mereka berinteraksi, bonding seperti apa yang diperlukan. Tapi guilty pleasure itu tidak terhindari. Dalam belajar, eksperimen eksperimen kecil diperlukan untuk mengetahui sejauh mana batasan batasan perilaku mereka. Bukan untuk kepuasan berperilaku manipulatif, tapi oh well, itu memang menyenangkan.

Cant help it, dunia baru ini penuh karakter karakter aneh yang menarik untuk ditweak…

Cafeine loves Nicotine

Cafeine loves Nicotine

Blitzkrieg sore itu berujung pada pertemuan kilat. Di sudut rumah makan yang tidak terjangkau oleh malaikat malaikat Tuhan (konon malaikat tidak mau masuk ke rumah yang ada lukisan dan patungnya. Dan, Hell, rumah makan ini penuh patung dan lukisan). Aku harus membayar dia dengan sebungkus Malrboro Black untuk sekedar mendengar celotehnya (sabdanya) tentang kehidupan. Wanita itu kurus. Sangat kurus. Apa yang dia alami, apa yang masuk ke otaknya benar benar jauh lebih berwarna daripada aku. Dan Blasphemy selama satu jam dimulai. Jika ini brainwash, otakku pasti sudah sangat berwarna karena berulang kali kelunturan saat di laundry. Aku dibombardir dengan logika. Bukan dengan dogma. Dan aku berharap suatu saat agen agen NII bisa menjamahku.

Tapi bukan aku jika tidak mendambakan sudut pandang baru. Menyerap perspektif baru selalu membuatku mengalami braingasm. Dan itu adalah candu. Imam samudra dan amrozi pernah memberiku orgasme itu ketika kebingungaanku atas motif Bom Bali terurai sempurna dalam kesaksian mereka. Demikian pula ketika Patrick si Bule Kafir itu mengatakan Bahwa penjajahan Belanda telah membawa banyak kemajuan yang tidak akan dibawa oleh Jepang dan Arab. Ketika semua orang mencoba menghujatnya, aku mengalami braingasm.

Seriously, comrade….. Life was never been this beautiful…. And this is the way I pray

Doraemonisme

Doraemonisme

Pendeta itu bermata sipit, bertubuh bulat pendek, dan berkopyah (topi?) biru. Ditangannya memegang erat komik doraemon seperti sedang memegang alkitab. Dia adalah satu dari sekian Pengkabar dari Gereja Doraemonisme yang mencoba mengkabarkan kebenaran Doraemon meniru cara cara Pengkabar Jehovah Witness.

Aku mencoba mengusirnya sejak awal, “Heh, biar dibayar 1 milyar juga ga bakal bisa bikin gue percaya kalau Doraemon itu ada. Lagian kalau mau bikin gue percaya harusnya pake Bukti dong. Tunjukin Keberadaan Doraemon secara Nyata!”

Dengan gigih dia mencoba menjelaskan, ”Oke, pendekatan gue salah…. Gimana kalau gini. Kalu lu percaya Doraemon itu ada, lu bisa masuk surga setelah mati, kalau enggak, lu masuk neraka! Lagian Doraemon itu lebih real untuk disembah, wujudnya sering keliatan, dia omniscience (dengan kantong ajaibnya), Imortal (dari dulu ga tamat tamat), Baca kitabnya bisa bikin lu ketawa bahagia, nonton Kisah Kisahnya bisa bikin lu Ceria, lu cuma perlu ngorbanin dorayaki sekali setahun, dan to be honest ya, merchandise2nya lebih fashionable dari agama manapun jugaa… Lagian lu aneh juga nanya nanya bukti fisik keberadaan Doraemon. Doraemon itu dzat yang tidak bisa dideteksi keberadaannya oleh manusia. Karena itu emang sifatNya yang keterbatasan akal manusia gak bakal bisa ngerti.”

Aku menghela nafas, “Gue butuh doa doa gue dikabulkan. Bukan sekedar keinginan untuk punya temen imajinasi yang seolah olah sayang bangtet sama umatnya atau sekedar kebutuhan untuk menyembah sesuatu. Itu gunanya Tuhan buat gue. Sebagai tempat meminta dan berlindung.”

“I promise You, tiap kali elu lihat setan, kalau lu nyebut nama Doraemon, tuh setan bakal ilang. Kalau enggak, itu bukti iman elu terhadap Doraemon Kurang! Bandingin efektifitas Doraemon dan Tuhan elu sekarang dalam hal memberi perlindungan. Kalau elu pengen kaya, elu harus tetep berusaha sambil berdoa pada Doraemon. Sama kan? Lagian masalah doa, lu coba bandingin ama Tuhan sebelah laa, hasilnya juga ga jauh jauh beda. Kadang Doa lu dikabulin ama Doraemon, kadang dua lu belum dikabulin ama Doraemon, atau kadang Doa elu tidak dikabulin sama Doraemon karena iman elu yang kurang atau Doraemon punya rencana yang lebih Mulia untuk elu dimasa mendatang!

“Lihat lu punya body laa, betapa sempurnanya dan lu lihat alam semesta kita, semua rumit dan ga mungkin terjadi dengan kebetulan. Pasti dibangun dan dirancang dengan kecerdasan dan tekhnologi yang tidak terbayangkan. Itu bukti kalau Doraemon itu ada! Coba lu baca kitab kitab komik doraemon, kalau lu nafsirinnya bener, lu bakal nemuin kesesuaian kitab kitab komik doraemon dengan sains! Satu demi satu alat alat doraemon mulai bisa diwujudkan manusia, men!

Oke, gue lihat lu orang bisnis. Sekarang kita lihat opportuniti aja. Lu tau ada lebih dari 9000 konsep Tuhan diluar sana, dibawa agama beda beda. Lu salah pilih satu aja, lu bakal masuk neraka. Makanya, lu mending pilih Doraemon untuk lu sembah.”

Aku mendorongnya keluar dan membanting pintu. Dia masih sempat mengucapkan kata kata terakhirnya.

“ Sekarang memang elu belum dapet Hidayah dari Doraemon. Dia emang pilih-pilih orang, Men. Camkan ituu!”

Blitz!! Sejenak aku terbangun. Ternyata ini cuma mimpi. Lagi lagi aku tertidur saat khutbah. Sinting. Dasar Funamentalis. Ajarannya konyol banget. Masak Doraemon bisa gantiin Flying Spaghetti Monster? Kembali kusimak ceramah pria diatas mimbar yang berbaju perompak itu.

Bubur Ayam Tidak Diaduk

Bubur Ayam Tidak Diaduk

Aku menemukan sebuah perbedaan yg konyol tapi prinsipil (atau sebaliknya: prinsipil tapi konyol) antara aku dan si bebek.

Ceritanya bermula di suatu malam dimana hujan datang dengan tiba tiba.
Setelah jemput si bebek dari acara putu putu kalender (foto foto kalender) untuk telkomsel kita mampir di lesehan yang terkenal karena sambel bakarnya. (Terkenal aneh, maksudnya. Sambel kok dibakar. Heheh) aku memberitahunya bahwa si hendra (adikku) barusan kujemput dr asrama dan sekarang ada di rumah (kontrakan). Si bebek langsung excited dan berkotek kotek ceria. Dia cocok sama hendra karena si bebek doyan masak, dan hendra doyan makan. Hendra selalu menghabiskan apapun yg ada dipiringnya dan membuat si bebek selalu merasa sebagai “master chef”.

Wait, jangan salah. Si bebek MEMANG master chef (by my standard). Hampir dia ga pernah masak sesuatu yg ga enak. Mulai dr cumi saos tiram, tuna, cah jamur ati, pepes bandeng, hingga mac and cheese …. (Kampret, jadi laper…). The thing is…. Si masterchef ini tidak pernah mengizinkanku menikmati makanan dalam kedamaian. Dia selalu mencerca dengan pertanyaan: “gimana? Kurang asin? Kemanisen? Berapa nilainya?”

Ketika masuk ke pertanyaan “berapa nilainya?” Any number you said, will trigger another question: “kok cuma 8?” “Kok dari kemarin 9? Boong ya?” Dan jangan kira, angka 10 pun tak bisa membungkamnya. Haduw…

Kembali ke pokok bahasan. Alasan lain kenapa si bebek suka kalau hendra menginap adalah ritual sarapan bubur bersama. Nggak masak, tapi beli di tukang bubur deket rumah. Si Bebek adalah BIG fans bubur dan hendra toh adalah omnivora (pemakan segala). Oiya hendra sama sepertiku. Gak bisa gemuk seberapa banyakpun yang dimakan. Tapi aku pilih2 makanan termasuk bubur. Aku hanya makan bubur ayam kalau lagi pengen aja.

Speaking of which, ngomongin tentang bubur, aku inget pertempuran 2 grup besar di facebook antara “grup bubur diaduk” dan “grup bubur gak diaduk”. Sesuai namanya, keduanya mencoba mengkonvert dan mendikotomikan populasi pemakan bubur di facebook antara yang diaduk dan enggak. Aku sendiri termasuk pendukung garis keras bubur tidak diaduk. Bagiku itu sangat civilized, dan berseni. Sementara kalangan bubur diaduk berargumentasi bahwa mengaduk bubur sebelum dimakan melanggengkan tradisi (whatt?), kebebasan (nonsense!), dan kesatuan rasa (yuck!). Dunia harus sadar bahwa bubur ayam tidak seharusnya diaduk sebelum dimakan.

Tiba tiba aku teringat bebek yg asik makan disampingku. ” Kwek,…. Kamu kalau makan bubur diaduk dulu nggak sih?”

Dengan riang dia menjawab ” Iya!”

Wadezigh!

Dance in the rain

Dance in the rain

Dengan penuh keiklasan aku mengumpat sore itu. Matahari baru saja tenggelam dan jalanan chaos karena semua orang berebut ingin cepat sampai di rumah. Dengan AC mobil yang mati aku menembus kemacetan jogja untuk mengambil pesanan figura untuk promo yang dimulai besok pagi. Jam jam ini adalah jam dimana orang masih merasa belum perlu menyalakan lampu kendaraannya dan mempertinggi resiko kecelakaan di jalan. Ya, seperti yang kita bisa ketahui, kecelakaan di jalan paling sering terjadi saat menjelang magrib dibanding jam jam lain.

Tapi AC yang mati, jalan yang macet dan pengguna jalan yang sering seenaknya memotong jalan, belum mampu membuatku mengumpat. Hujanlah yang menjadi penyebabnya. AC mobil yang mati membuatku terpaksa membuka kaca jendela, dan hujan yang turun membuatku tak punya pilihan lain selain menutupnya. Gerah. Macet panjang di lampu merah tak bisa dihindari. Hujan yang tiba tiba membuat semua orang menjadi lebih buru buru untuk sampai ke rumah atau mencari tempat berteduh. Semua…kecuali orang gila di trotoar itu. Yang menengadahkan kepala dan kedua tangannya ke langit. Menyambut hujan. Dan berputar putar diatas trotoar seperti tarian hujan.

Hanya orang gila yang menyukai hujan di saat seperti ini.

Namun tentu kejadian biasa itu tidak akan menggerakkanku menulisnya di blog ini. Seorang gadis berpayung hitam datang dari selatan trotoar. Dia berjalan santai di tengah hujan, dan tersenyum melihat orang gila itu dan ikut berputar sekali, lalu tertawa sambil melanjutkan langkahnya.

Aku termenung, jika orang gila menyukai hujan, maka ia yang waras, dan mampu tersenyum, menari dan tertawa dalam hujan…. pasti lebih gila dari orang gila itu.

Dalam kebencianku ada rasa iri…. wahai engkau yang tidak aku kenal, ajari aku menari dalam hujan. Agar segala kepahitan hidup ini nanti, mampu kusapa. Ajari aku menari di sepanjang tepi sabana….agar aku bisa selalu tertawa sepertimu.

Sunday teapot club

Sunday teapot club

“There’s a Chinese teapot revolving around the sun.” Bertrand Russell

Ini bukan cerita romantika. Percayalah. Sudah seminggu ini aku tak bisa tidur, tak bisa memejamkan mata. Kalut. Setiap kali aku memejamkan mata, semua menjadi liar tak terkendali. Struktur atom, partikel, poci teh yang mengintari matahari, lenyapnya bidadari bidadari, hingga monster spagetti. They’re not some random stuff, they do come into my dream. Tanganku menjadi tak terkendali setiap bersentuhan dengan komputer atau blackberry. Mataku menjadi liar dan mencoba menyerap semua informasi yang ada. Mencoba membuat segalanya menajadi utuh. Melengkapi puzzle terbesar yang pernah aku hadapi. Aku mudah tersulut emosi, kesabaranku begitu tipis.

Ditengah kegilaanku, aku sadar aku sendirian. Tak ada yang mampu memahami dan menjawab sisa sisa puzzle ini. Semakin puzzle itu sempurna, semakin aku tidak puas. Aku mencari orang orang sepertiku di luar sana. Mereka menghilang dan menutup diri. Mereka telah menemukan ketenangan dalam ignoransinya. Mereka mampu terlelap dengan memeluk illuminasi. Tidak seperti aku yang terbakar karenanya.

Semua membaik ketika aku bertemu pria itu suatu hari. Dia berasal dari Oman. Dengan bahasa inggris yang cukup baik dan hidung yang tidak terlalu lancip membuatnya lebih mirip ras kaukasia daripada arab. Dia belum menyebutkan nama aslinya dan lebih nyaman membicarakan betapa besarnya negeri ini sebagai negara muslim. Kami tidak terjebak pada pembicaraan filosofis yang dapat membuat gila. Kami membicarakan sepak bola, kopi luwak, hingga film. Semua mengalir didampingi secangkir teh di hari minggu. Dan segera aliran baru itu semakin deras seiring munculnya sosok sosok baru yang tersatukan oleh iluminasi. Masing masing dengan pola pikir dan kisah yang menarik. Meskipun cangkir teh itu kini didampingi beberapa botol bir dan kopi, ketertarikan kami akan “poci teh” dari Bertrand Russell telah mempersatukan kami.

 

Revenge

Ini bukan pertama kalinya aku berurusan dengan pria pendendam. Malam itu aku harus bertemu dengannya. Setelah sekian lama. Tiba tiba saja entah darimana datangnya sms itu masuk.

“Masih inget aku? Aku tau kamu di jogja. Kita harus ketemu. -rizky-”

Dari puluhan rizky yg kukenal selama seperempat abad umurku, entah bagaimana aku hanya ingat sosok itu. Dia yang pendek, gempal, berambut jabrik sepertiku, dan berkulit ‘sangat’ putih. Dan satu lagi, dia memiliki gigi taring yang mencolok ketika dia tersenyum lebar (seringnya senyum sarkastis). Tentu saja dia bukan vampir. Kulitnya putih genetik yg bercahaya, bukan kulit pucat. Dan dia menggemari sinar matahari.

Aku ingat betapa dia dimusuhi banyak orang diantara kami karena sikapnya yang tidak pernah normal. Aku yg tidak pernah dengan sengaja mencari masalah pada suatu titik pernah berada di jajaran orang yang memusuhinya. Badan kami pernah beradu di sebuah lorong sekolah yang sempit. Jauh dari kerumunan orang. Hanya aku dan dia. Aku kalah. Atau mengalah lebih tepatnya. Mendadak aku sadar aku tidak punya alasan untuk berurusan dengan dia.

Sejak saat itu kami tidak pernah bicara. Namun juga tidak saling membenci. Bagiku urusanku, bagi dia urusan dia. Aku yakin pada satu titik, kami saling mengerti. Bagi aku yang gemar menilai orang, latar belakangnya masih merupakan misteri yg tidak terpecahkan. Bagaimana anak sekecil itu, memiliki pola pikir sedemikian rupa.

Aku menimang kunci motorku malam itu. Hujan sangat deras dan kami ada janji untuk bertemu di sebuah kafe di gejayan. Apakah dia akan datang hujan sederas ini?

Akhirnya kuterjang hujan itu. Tanpa jas hujan. Dengan aku basah kuyup akan memberikan aku alasan untuk tidak bertemu dengannya lama lama. Jalanan begitu sepi dalam hujan sederas ini. Di kanan kiri banyak orang terjebak dan berteduh. Aku memacu ‘norbert’ku dengan kecepatan penuh.

Aku nyaris tidak mengenalinya. Dia berkulit lebih gelap, berbadan tegap dan nyaris setinggi aku. Aku mengenali sepintas wajahnya, dan senyumnya.
Senyum yang kali ini bersahabat. Dan seperti membaca pikiranku, dia berkata.

“Kamu sudah banyak berubah sekarang, ya.”

Aku tersenyum.