Blitzkrieg sore itu berujung pada pertemuan kilat. Di sudut rumah makan yang tidak terjangkau oleh malaikat malaikat Tuhan (konon malaikat tidak mau masuk ke rumah yang ada lukisan dan patungnya. Dan, Hell, rumah makan ini penuh patung dan lukisan). Aku harus membayar dia dengan sebungkus Malrboro Black untuk sekedar mendengar celotehnya (sabdanya) tentang kehidupan. Wanita itu kurus. Sangat kurus. Apa yang dia alami, apa yang masuk ke otaknya benar benar jauh lebih berwarna daripada aku. Dan Blasphemy selama satu jam dimulai. Jika ini brainwash, otakku pasti sudah sangat berwarna karena berulang kali kelunturan saat di laundry. Aku dibombardir dengan logika. Bukan dengan dogma. Dan aku berharap suatu saat agen agen NII bisa menjamahku.
Tapi bukan aku jika tidak mendambakan sudut pandang baru. Menyerap perspektif baru selalu membuatku mengalami braingasm. Dan itu adalah candu. Imam samudra dan amrozi pernah memberiku orgasme itu ketika kebingungaanku atas motif Bom Bali terurai sempurna dalam kesaksian mereka. Demikian pula ketika Patrick si Bule Kafir itu mengatakan Bahwa penjajahan Belanda telah membawa banyak kemajuan yang tidak akan dibawa oleh Jepang dan Arab. Ketika semua orang mencoba menghujatnya, aku mengalami braingasm.
Seriously, comrade….. Life was never been this beautiful…. And this is the way I pray

Oktober 15, 2011 at 5:06 am
hemmmm