Bubur Ayam Tidak Diaduk

Bubur Ayam Tidak Diaduk

Aku menemukan sebuah perbedaan yg konyol tapi prinsipil (atau sebaliknya: prinsipil tapi konyol) antara aku dan si bebek.

Ceritanya bermula di suatu malam dimana hujan datang dengan tiba tiba.
Setelah jemput si bebek dari acara putu putu kalender (foto foto kalender) untuk telkomsel kita mampir di lesehan yang terkenal karena sambel bakarnya. (Terkenal aneh, maksudnya. Sambel kok dibakar. Heheh) aku memberitahunya bahwa si hendra (adikku) barusan kujemput dr asrama dan sekarang ada di rumah (kontrakan). Si bebek langsung excited dan berkotek kotek ceria. Dia cocok sama hendra karena si bebek doyan masak, dan hendra doyan makan. Hendra selalu menghabiskan apapun yg ada dipiringnya dan membuat si bebek selalu merasa sebagai “master chef”.

Wait, jangan salah. Si bebek MEMANG master chef (by my standard). Hampir dia ga pernah masak sesuatu yg ga enak. Mulai dr cumi saos tiram, tuna, cah jamur ati, pepes bandeng, hingga mac and cheese …. (Kampret, jadi laper…). The thing is…. Si masterchef ini tidak pernah mengizinkanku menikmati makanan dalam kedamaian. Dia selalu mencerca dengan pertanyaan: “gimana? Kurang asin? Kemanisen? Berapa nilainya?”

Ketika masuk ke pertanyaan “berapa nilainya?” Any number you said, will trigger another question: “kok cuma 8?” “Kok dari kemarin 9? Boong ya?” Dan jangan kira, angka 10 pun tak bisa membungkamnya. Haduw…

Kembali ke pokok bahasan. Alasan lain kenapa si bebek suka kalau hendra menginap adalah ritual sarapan bubur bersama. Nggak masak, tapi beli di tukang bubur deket rumah. Si Bebek adalah BIG fans bubur dan hendra toh adalah omnivora (pemakan segala). Oiya hendra sama sepertiku. Gak bisa gemuk seberapa banyakpun yang dimakan. Tapi aku pilih2 makanan termasuk bubur. Aku hanya makan bubur ayam kalau lagi pengen aja.

Speaking of which, ngomongin tentang bubur, aku inget pertempuran 2 grup besar di facebook antara “grup bubur diaduk” dan “grup bubur gak diaduk”. Sesuai namanya, keduanya mencoba mengkonvert dan mendikotomikan populasi pemakan bubur di facebook antara yang diaduk dan enggak. Aku sendiri termasuk pendukung garis keras bubur tidak diaduk. Bagiku itu sangat civilized, dan berseni. Sementara kalangan bubur diaduk berargumentasi bahwa mengaduk bubur sebelum dimakan melanggengkan tradisi (whatt?), kebebasan (nonsense!), dan kesatuan rasa (yuck!). Dunia harus sadar bahwa bubur ayam tidak seharusnya diaduk sebelum dimakan.

Tiba tiba aku teringat bebek yg asik makan disampingku. ” Kwek,…. Kamu kalau makan bubur diaduk dulu nggak sih?”

Dengan riang dia menjawab ” Iya!”

Wadezigh!