
Jangan Pergi...
Izinkan aku menata semuanya kembali. Semua yang aku bangun, membuatku terlena, dan tanpa sadar aku hancurkan. Semuanya sudah terjadi. Aku kembali dengan sisa sisa yang kupunya. Aku telah hancur..lebur. Kamu benar, aku selalu memilihmu pada akhirnya… Aku selalu merasa… disitulah rumahku. Kamu tak pernah pergi.
Lihat, teman teman barumu itu benar…aku tak layak buatmu. Aku bahkan sadar. Aku tak layak buat wanita manapun. Karena aku selalu mencoba mengikat…tanpa mau diikat.
Aku melihat jauh ke dalam… mencoba menerjemahkan apa yang ada di relungmu. Kau berharap semua orang disekeliling kita menghilang….Dan kau akan memperlakukanku seperti apa yang kau rasa. Bukan apa yang seharusnya kau lakukan.
Itulah aku, beb. Entah sejak kapan aku kehilangan otak. Aku menuruti perasaan. Dunia menolak konsep bahwa seorang pria bisa mencintai lebih dari satu wanita. Aku berkata jujur padamu ketika aku bilang aku mencintainya… Dan aku mencintaimu… Namun aku merasa kotor dan munafik ketika mengucapkannya. Lihat…. kau menafsirkan kekakuanku sebagai sebuah ketidak jujuran bahwa aku sayang kamu….
Aku sayang kamu… aku hanya merasa kotor tiap kali mengucapkannya. Lihat bagaimana kau bertingkah seperti malaikat ketika menghadapi aku, dan kerapuhan2, dan kebodohanku.
Dan lagi…. Kau selalu menuntut kejujuran. Satu yang perlu kamu tau, sayang…. Kejujuran itu mudah buatku. Aku bisa menjadi sangat jujur padamu, karena itulah aku. Pria yang selalu menuruti dan mengungkapkan kata hatinya, dan menentang paradigma2 apa yang didoktrinkan orang2. Kebohongan2 itu hadir ketika aku tersudut… Ketika kamu tak bisa menerima kejujuran…
Dan aku memang bajingan. Namun lihatlah, aku hadapi kamu, aku hadapi mereka, aku hadapi hujatan dan pukulan pukulan itu. Darah dari pelipis dan hidungku… setidaknya aku mencoba untuk tidak menjadi pengecut. Dan kamu pernah mencintaiku karena hal itu…
Aku masih pria itu…
Aku duduk di pintumu… sampai aku yakin kau tak akan membukanya kembali. Yakinkan aku jika kau memang ingin aku pergi…



VirKill.